Perempuan Dalam Jerat

Dipublikasikan tanggal 6 Apr 2021
Ditonton 3 737
3

Jakarta - Keterlibatan perempuan dalam aksi teror bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar dan aksi penembakan di Mabes Polri, Jakarta beberapa waktu lalu menuai sorotan dan menambah catatan keterlibatan kaum perempuan dalam jaringan kekerasan. Selama 2000-2020, Institute for Policy Analysis for Conflict (IPAC) mencatat sudah ada 39 perempuan yang menjadi tahanan dan narapidana terorisme.
Sementara itu hasil riset Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada Februari lalu menyatakan sepanjang 2020 persentase perempuan yang terpapar paham radikalisme mencapai 12,3 persen sedangkan laki-laki 12,1 persen. Selain itu, kalangan urban, generasi Z dan milenial, serta aktif di internet juga berpotensi terpapar paham radikalisme dibandingkan yang lain.
Keterlibatan perempuan dalam aksi teror menunjukkan adanya pergeseran tren dalam gerakan radikal. Pelibatan perempuan dalam aksi teror ini berbeda dengan era Jamaah Islamiyah (JI) atau Al-Qaeda yang hanya menekankan peran laki-laki dalam penyerangan. Pergeseran ini mulai terjadi sejak adanya deklarasi ISIS pada 2004 yang turut menurunkan wanita dan anak-anak dalam penyerangan.
Pakar terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail berpendapat bahwa keterlibatan perempuan tumbuh seiring berkembangnya penggunaan media sosial dalam penyebaran propaganda atau doktrin para simpatisan ISIS. Penggunaan media sosial secara tidak langsung telah meningkatkan peran kaum perempuan. Meski demikian, ia menambahkan tidak ada alasan tunggal yang melatarbelakangi perempuan bisa bergabung dalam aksi terorisme.
Sementara itu, Komnas Perempuan menyatakan keterlibatan perempuan dalam aksi kekerasan telah menunjukkan dinamika yang mengkhawatirkan. Karena sebelumnya keterlibatan perempuan umumnya sebagai pendamping suami atau pengikut setia yang memberikan perbantuan dan perlindungan. Kini, perekrutan perempuan menjadi pelaku serangan kekerasan merupakan taktik agar tidak mudah dicurigai untuk alasan keamanan.
Lantas apakah pelibatan perempuan memang strategi baru kelompok teror? Apakah diperlukan pendekatan berbasis gender dalam program deradikalisasi?
Untuk membahasnya, Alfito Deannova akan membahasnya bersama pakar terorisme Noor Huda Ismail, komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan Amany Lubis, dan eks narapidana kasus terorisme Sofyan Tsauri. Simak perbincangannya dalam D'Rooftalk: "Perempuan Dalam Jerat Terorisme."
Ayo tonton dan share detik ini juga!

click our website :
- detikcom: www.detik.com
- 20detik: 20.detik.com

Follow official account detikcom di:

- Twitter: detikcom
- Instagram detikcom: detikcom
- Instagram 20detik: 20detik
- Facebook detikcom: detikcom
- Facebook 20detik: 20detik

detikcom
Komentar  
  • Umi Badriyah

    Umi Badriyah

    8 hari yang lalu

    BISMILLAH ...
    Wa'alaikumussalam. .
    Astagfirullah nau'dzubillah mingdzaliik semoga kita semua n klurga selalu dalam lindungan ALLAH SWT 💪❤️🙏🙏,,
    Allahumma Shollu'Alaih 😍
    AAMIIN ...
    🌄🌄💚🌄🌄

  • Siswandoyo Wasis

    Siswandoyo Wasis

    8 hari yang lalu

    Lanag & wedok utek'e podo ae, bedone alat kelamine (sax).......

  • Ardli Robbi Habibie

    Ardli Robbi Habibie

    8 hari yang lalu

    39:40 jadi poin narasumber adalah jika seseorang memiliki kepribadian tertutup / introvert rentan akan pengaruh terorism? Logical fallacy macam apa ini? Fakta empiris membuktikan bahwa banyak pelaku terror yang memiliki kepribadian terbuka dan aktif dalam kegiatan lingkungan, logika apa yang ingin dibangun oleh narasumber?

  • M Pinem

    M Pinem

    8 hari yang lalu

    Semoga para orangtua dan org2 dewasa yg sdh cerdas serta lembaga2 terkait dpt mengawasi anak2,generasi muda jangan termakan ajaran2 yg bermuara kehancuran

  • Hacker Bulang

    Hacker Bulang

    8 hari yang lalu

    D JERAT MELALUI MEDSOS...DI RAYU DI IMING SYURGA...LALU D JADIKN PENGANTIN.

  • La Eka

    La Eka

    8 hari yang lalu

    Cuma oknum di anggap teror kasihan
    Ujung"nya Agamalah yg d salahkan

    • M Pinem

      M Pinem

      8 hari yang lalu

      @Zagreus .Ya,sependapat

    • Zagreus

      Zagreus

      8 hari yang lalu

      Orang dari salah satu partai politik korupsi. Trus partai itu blg, "org yg korupsi itu bukan org partai kami" Sayang sekali ya. Pdhl kalo partai tsb mengakui dan mau membenahi diri dari dalam, menurut saya akan lbh baik

  • kueuduk

    kueuduk

    8 hari yang lalu

    2019